"sejak jumpa kita pertama, ku langsung jatuh cinta
walau ku tahu kau ada pemiliknya..
namun ku tak dapat membohongi hati..
tak mampu mengingkari gejolak cinta ini.."
"chrisye-kala cinta menggoda"
halooo.. udah sekitar 4 bulan gue ga nulis lagi di blog ini. yahh.. sedikit sibuk buat mempersiapkan ujian kelulusan,. mulai dari sidang karya tulis, ujian praktek, try out, ujian sekolah, bimbel-bimbel, sampe UN. baru kali ini gue punya waktu buat sedikit berculcol ria disini. hahay.. ga penting juga sih.
anywaay.. apakah kalian bertanya-tanya apa maksud dari judul postingan kali ini? kenapa gue nyanyiin dulu lagu chrisye sebelum nulis? dan kenapa gue sedikit nggak jelas akhir-akhir ini? let see.. jawaban untuk pertanyaan pertama adalah udah sejak dari tanggal 2 mei gue hijrah ke Tangerang Selatan, ikutan bimbel STAN ceritanya. udah jadi rahasia umum kalo suatu kehormatan terbesar buat gue bisa jadi mahasiswi di sana. didukung oleh ortu dan yang pasti "dompet kakak-kakak gue", mereka pun berbesar hati ngelepas gue dan ngebiarinin gue ngambil les yang jaraknya hampir 100 kilometer dari rumah. bukan perkara mudah buat hidup jauh dari ortu, apa lagi ini baru cuma les, belum kuliahnya.
then, this is for 2nd question. guess what? pertama kali gue menginjakan kaki di Tangerang, pertama kali gue ngeliat ketua dari tempat bimbel yang gue ambil, dan pertama kali juga gue mulai sedikit memperhatikan dia. oke.. panggil saja dia Kak Frans. lengkapnya Franson Pratama Singgalingging (atau Sigalingging? kurang lebih begitulah). setiap gue ngeliat dia, mengingatkan gue akan Pacau yang udah sekitar 3 tahun nggak gue liat-liat lagi tampangnya. dia kelahiran tahun 89, tingginya mungkin 170+, sedikit berisi, dan sialnya batak. haha.. nggak tau kenapa gue selalu menambatkan hati pada pria-pria batak. padahal nggak tahu apa istimewanya. tapi sayangnya dia udah punya cewek. katanya sih anak Jakarta. malah padahal sebelum gue tahu kalo dia udah punya cewek, gue berpikir bahwa dia lagi naksir sama Vani, cewek yang nge-kost di samping kost-an gue. kenapa gue bisa berspekulasi kayak gitu? check these answer out!
1. waktu pulang dari Monas, Vani bawa-bawa mawar merah. dan orang-orang yang ada di situ pun tahu bahwa cuma Kak Frans-lah yang beli mawar pada saat itu.
2. beberapa minggu yang lalu gue ngeliat Kak Frans bertandang ke kost-annya Vani. entah untuk apa. tapi yang jelas bukan untuk belajar bersama, kan?
3. dan sekitar seminggu yang lalu gue liat mereka jalan malem-malem. padahal untuk ukuran gue-gurunya-lo-murid-gue, jarang-jarang, kan ada murid jalan sama gurunya? entahlah.. seperti itulah yang gue liat.
and for the last question, udah gue singgung-singgung dari awal kalo nge-kost itu bukan perkara yang mudah. kita harus lebih sosialisasi ke anak-anak kost yang lain, berbagi makanan dan nggak pelit kalo kita punya, sok-sokan baik hati padahal hati kita mangkel gela sama orang itu, dan yang paling penting dari itu semua adalah tenggang rasa.
yahh.. pada kenyataannya dalam satu kost itu gue berpartner sama 4 orang. 2 orang lainnya sih baik-baik aja, sama sekali nggak mengusik hati. tapi ada nih satu orang yang sebenarnya jika gue punya kuasa, pengen gue tendang tuh anak pake dua kaki. di sini gue nggak mungkin nyebutin nama aslinya. tapi supaya ceritanya jadi enak dan nama dia masih bisa terlindungi, kita sebut aja dia MON. Mon ini sebenarnya anaknya baik, suka membantu, tapi satu hal (dan lebih) yang gue dan anak-anak lain ga suka dari dia adalah omongannya yang besaaaar. yap! omongannya besar sekali. dia bilang dia punya ini-itu, pernah begini begitu, punya uang berapa-berapa, dan sebagainya dan sebagainya. sebenarnya sih gue nggak keberatan kalo dia berceloteh sambil jungkir balik asalkan celotehannya dia itu bermutu dan sesuai dengan realita. tapi ini berbeda 180 derajat. dia bilang dia punya uang banyak sedangkan untuk makannya sendiri aja dia pelit. yahh.. seperti itulah kurang lebih. kalo gue ceritain dari awal, malah gue yang emosi.
okee.. kira-kira segini dulu yang bisa gue ceritain. semoga di posting-posting selanjutnya cerita gue nggak selalu suram. see ya!