Yang aku tahu, sepanjang hidupnya ayah tidak pernah menangis. Setidaknya itulah yang ia lakukan di depan istri dan anak-anaknya, serta orang-orang tercintanya.
Yang aku tahu, tidak ada satu hal pun yang mampu membuat air mata jatuh dari mata tegas ayah. Tidak karena istri tercintanya-sekaligus ibu bagi buah hati-buah hatinya yang mulai sakit-sakitan, tidak karena penghasilannya sebagai penjual rujak keliling kadang dirasa kurang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tidak juga karena rumah kami terlalu kecil untuk “keluarga besar” seperti kami. Itu semua belum ada apa-apanya bagi ayah.
Yang aku tahu, ayah sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Jika penghasilannya saat itu tidak cukup untuk makan kami sekeluarga, ayah memilih untuk mengulurkan jatah makannya kepada kami dan berkata tulus, “makanlah.” Biasanya kami langsung menyamber jatah makan ayah dan kami berebutan untuk melahapnya. Ibu hanya menatap ayah. Ayah balas menatapnya. Dari sorot matanya seakan ia berkata, “melihat kebahagiaan kalian jauh lebih membahagiakan buatku.”
Yang aku tahu, ayah adalah pribadi yang tegas. Ia tidak segan-segan memarahi bahkan memukul anak-anaknya yang berbuat salah. Seperti yang tempo hari dilakukannya kepada adikku yang berumur Sembilan tahun. Ayah marah sekali saat ia memergoki anak laki-lakinya itu mencuri singkong dari kebun pak lurah. Tak segan-segan ayah memukul kakinya dengan rotan, sampai kaki adik laki-lakiku itu memerah.
“belajar dari mana kamu mencuri?! Kapan bapak pernah ajarin kamu begitu hah?!” ayah tak kepalang marahnya. Adikku yang lain menangis melihat kakak laki-laki mereka dipukuli seperti maling begitu. Mereka berebut memeluk ibu.
“ampun paaak… nggak lagi-lagi… ampuuunn…” adikku yang satu itu mengiba, memohon agar ayah berhenti memukulinya.
Benar saja. Ayah menghempaskan rotannya ke tanah. Ia lalu terduduk di dipan. “obati lukamu. Setelah itu, pergi ke rumah pak lurah. Minta maaf sama beliau. Jangan ulangi lagi perbuatan tadi.” Sejurus kemudian ayah memeluk anak laki-lakinya itu.
Yang aku tahu, ayah adalah sosok yang taat beribadah. Sejak kecil kami tak henti-hentinya diajari shalat dan mengaji oleh ayah. Setiap hari, kami shalat subuh dan shalat isya berjamaah. Bahkan ayah pernah berkata begini di akhir shalatnya, “jangan pernah meninggalkan shalat. Shalat itu tiang agama. Sesukses-suksesnya kalian nanti, jangan pernah lupa minta sama gusti Allah. Banyak-banyak berdoa. Jangan lupa juga doain bapak ibumu karena saat kami meninggal nanti, doa kalianlah yang kami harapkan.” Aku mengangguk paham setiap ayah berkata seperti itu. Adik-adikku yang lain yang belum mengerti terus menatap ayah tanpa berkedip.
Yang aku tahu, ayah bisa menjadi ayah serta ibu yang baik bagi kami. Hal itu terbukti sejak ibu meninggal karena demam berdarah yang dideritanya. Ayah mati-matian mencari uang untuk makan kami, untuk sekolah kami. Ayah dengan telatennya menjahit kancing baju kami yang terlepas. Ayah yang tak pernah bosan menceritakan dongeng sebelum tidur pada kami. Ayah pulalah yang mengurusi segala keperluan kami.
Yang aku tahu, ayah tidak pernah rela mengeluarkan air matanya untuk menangisi kesedihan. Baginya jika ia menangisi kesedihan, air matanya tidak akan pernah cukup untuk seumur hidupnya. Itulah alasannya kenapa ia mengajari kami untuk kuat, menjadi pribadi yang tidak mudah goyah, dan tidak pernah menyerah jika menghadapi rintangan sesulit apapun.
****
Yang aku tahu, ayah amat sangat bahagia sekarang. Diusianya yang sudah sangat renta, ia tersenyum dengan penuh percaya dirinya di depan lensa kamera. Tangannya bergetar memegangi tongkatnya. Tak henti-hentinya ia tersenyum kepada semua orang yang ia lihat di dalam ruangan itu. Sampai-sampai gusinya terlihat dengan satu buah gigi taring yang bertengger di atasnya.
Seseorang yang berpakaian rapi dan mengenakan dasi mempersilahkan ayah duduk. Senyum ayah semakin mengembang, membuat semua orang yang melihatnya ikut tersenyum bangga. Orang yang mempersilahkan ayah duduk itu mulai berdehem dan membenarkan posisi duduknya.
“apa kabar pak Sud?” orang itu berkata, mulai mewawancarai ayah. Seketika suasana hening.
“puji syukur Alhamdulillah..” jawab ayah dengan lagi-lagi tersenyum memamerkan gusi-gusinya.
“saya ini heran, lho sama bapak. Bapak dulunya seorang penjual rujak keliling, ibu udah lama meninggal saat anak-anak masih pada kecil-kecil. Tapi kok yah bisa nyekolahin anak-anaknya sampai pada jadi professor begini. Kira-kira apa, nih kunci sukses bapak dalam membesarkan dan menyekolahkan anak-anak sampai berhasil seperti sekarang?”
Ayah tersenyum bangga. Ia pandangi wajah anak-anaknya dengan bangga, lalu ia berkata, “jangan pernah menyerah dengan keadaan, sesulit apapun kita.”
Dan yang aku tahu sekarang, diam-diam ayah menyeka air matanya yang jatuh dari sudut mata tegasnya.
****